Why you can’t never be too patient
Just read a post from a milis I joined. I paste the contents below, unedited in Bahasa (when I have time, will translate to English):
” Abah, kembalikan tangan Ita !! “ Apabila kamu menjadi marah , janganlah kamu berbuat dosa , janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan pada iblis. (Efesus 4 : 26 - 27)
Sepasang suami isteri seperti layaknya pasangan muda lainnya di kota kota besar , meninggalkan anak anak diasuh oleh pembantu rumah tangga semasa keluar bekerja.
Anak tunggal pasangan ini , perempuan berusia tiga setengah tahun , sendirian dirumah , dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja , bermain diluar tetapi pintu pagar tetap di kunci. Bermainlah dia berayun ayun diatas buaian yang dibelikan bapanya , ataupun memetik bunga raya , bunga kertas dan lain lain dihalaman rumah.Suatu hari dia melihat sebatang paku karat , dia mencoret semen tempat mobil bapanya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer , coretan tidak kelihatan , dicobanya pada mobil baru bapanya.
Ya …… , karena mobil itu berwarna gelap , coretannya tampak jelas , apalagi kanak kanak itupun membuat coretannya sesuai dengan kreativitasnya , hari itu bapa dan ibunya bermotor ketempat kerja karena macet ada perayaan Thaipusan. Setelah penuh dengan coretan pada sisi sebelah kanan mobil , dia beralih kesisi sebelah kiri , dibuatnya gambar bapa dan ibunya , gambarnya sendiri , gambar ayam , kucing dan lain sebagainya menurut imaginasinya , kejadian ini berlangsung tanpa disadari oleh pembantu rumah tangga nya.
Pulang petang itu , terkejut pasangan itu melihat kereta yang baru setahun dibelinya dengan bayaran angsuran. Si Bapa yang belum lagi masuk kerumah ini pun langsung berteriak , ” Kerjaan siapa ini ? ” Pembantu rumah yang tersentak dengan teriakan itu berlari keluar , dia juga beristighfar , mukanya merah padam ketakutan melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya , dia terus mengatakan . ” Tak tahu ……! ”
” Kamu dirumah sepanjang hari , apa saja yang kau lakukan ? ” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara orang tuanya , tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya , dengan penuh manja dia berkata , ” Ita yang membuat itu abah …. cantik kan ! ” katanya sambil memeluk bapanya ingin bermanja seperti biasanya.Si bapa yang kehilangan kesabarannya mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya , terus dipukulkannya berkali kali ke telapak tangan si anak , anak yang tidak mengerti apa-apa terlonglong-longlong kesakitan sekaligus ketakutan , puas memukul telapak tangan , si bapa memukul pula belakang tangan anaknya , si ibu cuma berdiam , seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikena kan.
Pembantu rumah tangga terbengong , tidak tahu harus berbuat apa. Si bapa cukup rakus memukul mukul tangan kanan dan tangan kiri si anak.
Setelah si bapa masuk diikuti isterinya , pembantu rumah tangga itu menggendong anak kecil itu , membawanya ke kamar , dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak luka-luka dan berdarah.
Pembantu rumah tangga itu memandikan si anak , sambil menyiram air sambil dia ikuit menangis , anak kecil itu menjerit jerit menahan kepedihan saat luka lukanya terkena air , si pembantu kemudian menidurkan anak itu , si bapa sengaja membiar kan anak itu tidur bersama dengan pembantu.Keesokan harinya kedua belah tangan si anak bengkak , si pembantu melaporkan. ” Oleskan obat saja ! ” jawab tuannya.
Pulang dari kerja , dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu dikamar pembantu , si bapa konon mau mengajar anaknya.Tiga hari berlalu , si bapa tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu , tetapi setiap hari bertanya kepada si pembantu. ” Ita demam …. ” jawab pembantunya ringkas.
” Kasih minum panadol. ” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur , dia menjenguk kamar pembantunya , saat dilihat anaknya dalam pelukan pembantu , dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.Masuk hari keempat , pembantu memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas.
” Sore nanti kita bawa ke klinik , pukul 5.00 siap ” kata majikannya itu.
Sampai saatnya si anak sudah lemah dibawa ke klinik , dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius.
Setelah seminggu di rawat inap , dokter memanggil bapa dan ibu si anak.
” Tidak ada pilihan ………” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
” Ia sudah bernanah , demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku kebawah.” kata dokter.Si bapa dan si ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata kata itu , terasa dunia berhenti berputar , tapi apa yang dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak , si bapa terketar- ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan , selepas obat bius yang suntikkan habis , si anak menangis kesakitan. Diapun terheran-heran melihat kedua tangannya berbalut kain kasa putih , ditatapnya muka bapa dan ibunya, kemudian kewajah pembantunya, dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.
Dalam siksaan menahan sakit , si anak bersuara dalam linangan air mata “Abah ……mama …… Ita tidak akan melakukannya lagi , Ita tak mau abah pukul , Ita tak mau jahat , Ita sayang abah …. sayang mama.” katanya berulang kali membuat ibunya gagal menahan rasa sedihnya.
“Ita juga sayang kak Narti ……..” katanya memandang wajah pembantu rumah tangga-nya, sekaligus membuat gadis dari Surabaya itu meraung histeris.
“Abah ….. kembalikan tangan Ita, untuk apa di ambil ….. Ita janji tak akan mengulangi nya lagi ! Bagaimana caranya Ita makan nanti ? Bagaimana Ita mau bermain nanti ?
Ita janji tidak akan mencoret coret mobil lagi,” katanya berulang ulang.Serasa copot jantung si ibu mendengar kata kata anaknya , meraung-raunglah dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
Renungkanlah :
Lihatlah anakmu, jangan biarkan dia bermain sendiri, juga jangan biarkan engkau bersibuk ria sendiri, peluklah selagi dia ada, sediakan waktu yang cukup buat anakmu…sebelum engkau menyesal
It strucks deep right into my heart. While I know it’s only a fiction, what a powerful message it brings. At least to me.
Of the scale 1-10, I may be at 6-8 when concerning about patient. But the ugly thing is, I could at times score 8-10 in explosive anger if I did lose the calmness. And unfortunately, my closest and beloved people were usually the ones who witnessed (and experienced) it.
I have yet to find wiser wisdom than the verses quoted by the poster regarding anger management:
“In your anger do not sin”: Do not let the sun go down while you are still angry, and do not give the devil a foothold. (Eph 4:26-28)
It’s been a shocking but gentle-strong reminder to me. Will remember Ita’s story when rage wants to show off. Thanks for the post, Efod.
As an aside note, somehow I was reminded about the experience of some of my close friends when the wives need to give up their 2+ months fetus because there’s no life signal. One even lost their 2 weeks old baby after birth. The husbands got ‘angry’ to God.
I know it’s not easy to have a good sense of empathy for others’ misfortunate experiences. But there were times where I couldn’t really ‘understand’ the feeling of losing a fetus or even a just born baby, especially to be ‘angry’ to God? Although I’m a husband myself, and one day will be a father as well, it was still incomprehensible for me to think being ‘angry’ to God due to this.
Until I read the above story - much clearer now, can really understand. (Well, at least it proves that it’s not because I’m prideful (not ever get angry to God), but merely lacking of empathic experience).
On the other way around, I can also apprehend better God’s love toward His children. It’s way too hard, too upsetting, too sad to lose even only 1 child to eternal death.
That’s why you can’t never be too patient. About anything.